Tampilkan postingan dengan label JOVE. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label JOVE. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 24 Maret 2012

Nge-jove dan beberapa rencana

jove kali ini sudah bisa beroperasi kembali setelah beberapa waktu lalu power supply jebol dan soundcard tidak terdeteksi. hari ini sudah bisa lagi walaupun belum tau penyebabnya. dari catatan sebelumnya disebutkan kalau sound tidak terdeteksi.

saya pernah mengalami sebelumnya dengan masalah pada pemilihan soundcardnya di menu options. hari ini setelah soundcard dipasang lagi dan tiset option soundcardnya, semua berjalan normal. ya, setidaknya sekarang sudah berfungsi. kalau ada masalah lagi, sama atau beda, kita catat dulu, lihat polanya, baru diputuskan nanti mau diapain. upload real time juga sudah bisa dijalankan lagi.

selanjugnya ada beberapa project system yang sudah direncanakan.
- menampilkan citra matahari terbaru dari teripong surya
- menata ulang halaman tampilan
- menata ulang data jove
- menata data jove yang diupload untuk bisa diakses kembali berdasarkan waktu
- menata data sky brigthness agar bisa diakses kembali berdasarkan waktu
- menata data surya

Minggu, 15 Mei 2011

Tentang Gadget Goes X-Ray

di bawah kanan halaman blog ini saya pasang gadget (kayaknya sama dengan widget di worpress atau modul di jomla) hasil pengamatan satelit Goes dalam rentang x-ray. ini merupakan citra tiap lima menit (setidaknya untuk saat tulisan ini ditulis -15 Mei 2011- gak tau ntar klo dirubah...:p ) dari pengamatan matahari. saya pasang ini sejak saya pertama kali mendeteksi semburan radio matahari. Waktu itu saya lapor ke Dr. Dhani Herdiwidjaya. Pak Dhani adalah dosen saya dan juga penguji saat Tugas Akhir. waktu itu Pak Dhani menunjukkan hasil citra goes x-ray ini.

Akhirnya untuk ikut memonitor aktifitas matahari dan kira-kira perlu ngamat pakai radio jove atau engga, saya pasang di sini. biar mudah gitu, dikumpulin semua di halaman blog ini.

matahari merupakan satu dari sekian obyek lain yang menyita perhatian saya. saya suka matahari... matahari tidak kalah penting dengan udara, air, dan tanah. -wew, kek avatar aja- o iya kurang api. matahari merupakan sumber utama energi di bumi. tentu saja  yang hebat bukan mataharinya, tapi Yang Menciptakan Matahari.

klo cuma ditinjau matahari dan bumi dari kaca mata sebab akibat ya matahari sumber utama. tapi klo dirunut-runut, dari mana matahari, ini dari mana, trus kemana, dan seterusnya menurut kemampuan akal... ya mungkin dapat suatu jawaban, tapi itu menurut akal. akal itu terbatas, saya sadar, tidak patut klo kita menurutkan semua pada akal, menyandarkan semua pada akal. menjawab bumi mengitari matahari atau sebaliknya saja butuh perdebatan beratus - ratus tahun. Ada satu yang mutlak yaitu Tuhan. bagi saya yaitu Alloh SWT. saya tidak lebih dari seorang hamba yang tidak tau apa-apa kecuali sedikit yang diberikan Alloh SWT. kok sedikit berarti gak bersyukur, ok maksudnya sedikit bahkan sangat sedikit atau kalau persamaan bisa dicoret karena bisa dianggap tidak ada jika dibanding dengan Ilmu Alloh ta'ala. Tapi sangat banyak bagi saya, dan itu perlu disyukuri atas semua yang ada. ya relatif lah... gak usah kaku-kaku. yang fleksibel gitu...:D. Wallohua'lam

balik lagi ke gadget, jadi gadget ini rasanya bisa digunakan untuk mencocokkan dengan pengamatan radio jove. kok rasanya?, ya karena saya belum mengkaji lebih jauh, setidaknya belum membaca tulisan di paper atau dimana tentang kaitannya x-ray ini dengan radio frekuensi rendah. tapi dari pengalaman yang sedikit tentang semburan radio yang lalu, sepertinya kalau x-ray ini makin fluktuatif, apa lagi sampai ada spike yang tinggi, akan ada juga di radio jove. ya ini hanya anggapan saya, klo benar ya syukur, klo salah ya dibenerin. mungkin ini bisa jadi hipotesis yang bisa dijadikan bahan penelitian.

Ngamat Eta Aquarids

Ngamat eta aquarids sudah saya rencanakan untuk dilakukan. Sebenarnya rencananya sih agak mendadak. asalnya gak akan ngamat. tapi pas merencanakan kegiatan bulan mei dari radio jadi kepikiran untuk mencoba mengaktifkan radio JOVE saat hujan meteor. knapa bilang mengaktifkan dan tidak bilang ngamat saja, soalnya saya juga tidak yakin dengan reallibilitas (bener gak nulisnya) alat ini untuk pengamatan hujan meteor. klo ngamat pakai radio FM sih pernah dengar dan sedikit2 ngerti konsep dan idenya. tapi klo pake jove, belum pernah dengar. jadi saya tidak bisa menjanjikan apa apa dari pengamatan ini.

Lalu apa hipotesisnya?, oke, saya berharap ada anomali yang muncul pada data yang ditangkap oleh jove. anomali ini yang akan dianalisis atau didiskusikan lebih lanjut. apakah terpaut dengan jatuhnya meteor atau tidak. apakah kejadiannya periodik atau sporadik. apa cukup tinggi perbedaannya dari level normal.

saat pengamatan memang jauh dari harapan. anomali yang saya inginkan justru terlalu banyak dan kalau kata anak muda jaman sekarang (wew) lebay. saya yakin itu interferensi. krna relatif stabil dan yah... ini terlalu 'kotor' datanya. saat ini memang belum di cek lagi datanya dan belum dianalisis. kesimpulan sementara tadi yang mungkin belum layak disebut kesimpulan (interferensi tadi) muncul setelah melihat sesaat dari data yang teramati saat monitoring jam 1~2 pagi.

karna asisten lain masih standby dan ngajak pengamatan mode optik, saya menyetujuinya. ambil kamera dan peralatan untuk mendokumentasikan. ambil ke schmidt dan ruang instrumen, trus standby. hasilnya lumayan, total dapat 25 meteor yang terlihat. sempet ada fireball besar dengan warna agak kehijauan. tapi sayang gak ada yang terekam kamera.

persiapan kamera juga seadanya. klo tau bakal ngamat begini, saya bawa kamera sendiri pake fisheye converter. ya sudahlah... mungkin belum jodohnya. ok, mungkin lain kali saja.

jove di set lagi untuk mode remote, dan dipantu dari bedeng setelah subuh datang. persiapan remote selama sekitar 1 jam akhirnya bisa digunakan juga.

Jumat, 25 Februari 2011

Pasang Kabel Transmisi


Hasi kamis, 24 Februari 2011, sesuai dengan rencana telah dilakukan setup kabel transmisi untuk interferometer JOVE. dari rabu siang udah standby di bosscha, siap - siap sama bikin rencana kerjaan. dari kosan udah disiapin denah jalur transmisinya sama denah jalur interferometernya. denah aku tinggal di bengkel  biar buat arsip.

pagi - pagi langsung standby di radio, para teknisi datang, langsung kerja. denah sudah dikasih dari kemarin dengan harapan sudah terbayang semua tentang apa yang mau dikerjakan. box control dibongkar lagi sama pak agus subang, kabel AJ-1 diambil, dibentangkan sepanjang jalan, buat patokan, kabel baru dibentangkan, diukur ulang, tiap 20 m ditandai dengan format J[nomer kabel] 0-[meter ke-], misal J1 0-20 (artinya antena jove 1 meter dari 0 sampai ke-20).

setelah ditandai, kabel dipotong, J1 dimasukkan kembali dan langsung ditimbun, mulai dari ruang radio sampai antena. permanenisasi ini dilakukan setelah beberapa kali dilakukan uji coba pengamatan interferometer. penanaman dilakukan lebih banyak orang, termasuk dari kebun turun tangan. agak sore, pas masang disekitar kombiner, gerimis datang. kerjaan tetap dilakukan, beberapa saat reda. selesai, dilanjut setup disekitar ruang radio, pipa kurang, jadi sementara di dekat radio tidak pakai paralon. J2 juga belum dipasang. total panjang terukur masing-masing coax transmission line yaitu 110,18 meter atau 9 lambda di 20,1 MHz untuk belden RG-6/u yang digunakan.


Atur penataan di ruang radio, coba testing, sinyal bisa diterima dengan baik. tetapi saya merasa masih ada yang tidak beres di software interferometer. dari sinyal yang masuk, sudah dipastikan tidak ada masalah dari sistem luar. mungkin ada yang perlu diatur lagi dari sisi software. untuk sementara yang dicurigai adalah dari sisi software dan sedikit tentang receiver. i think, no problem with transmission line. quote menarik " hey..if i don't, who?" terima kasih pak taufiq, pak agus setiawan, pak agus subang, pak iwa, pak suhana, aji, orang-orang kebun, dan semua yang terlibat langsung maupun tidak langsung.

Selasa, 15 Februari 2011

Flare Besar 15 Feb 2011

FIRST X-FLARE OF THE NEW SOLAR CYCLE: Sunspot 1158 has unleashed the strongest solar flare in more than four years. The eruption, which peaked at 0156 UT on Feb. 15th, registered X2 on the Richter scale of solar flares. NASA's Solar Dynamics Observatory recorded an intense flash of extreme ultraviolet radiation, circled below:
X-flares are the strongest type of solar flare, and this is the first such eruption of new Solar Cycle 24. In addition to flashing Earth with UV radiation, the explosion also hurled a coronal mass ejection (CME) in our direction. The expanding cloud may be seen in this movie from NASA's STEREO-B spacecraft. Geomagnetic storms are possible when the CME arrives 36 to 48 hours hence. Stay tuned for updates.(spaceweather.com)

Berikut hasil pengamatan radio dengan menggunakan Teleskop Radio JOVE, Observatorium Bosscha - ITB
Chart Pengamatan Radio JOVE 20,1 MHz 15 Februari 2011 jam 11:35:08 - 11:37:08 WIB
Pada sekitar  04:36 UT atau jam 11:36 WIB tercatat ada semburan yang sangat besar.
Perhatikan perbandingannya dengan level normal sebelum dan sesudahnya. Peningkatannya sekitar 7 kali lipat
Kondisi langit berawan rata dan cukup tebal saat pengamatan. Garis merah vertikal adalah interferensi lokal.

Selain data diatas, sempat pula direkam suara dari semburan radio ini. Hasil ini merupakan milestone atau tonggak sejarah yang besar dalam pengembangan teleskop Radio JOVE di Observatorium Bosscha. Dengan hasil ini, saya yakin Observatorium Bosscha bisa terlibat aktif di radio (frekuensi rendah) untuk "menyambut" siklus aktifitas matahari ke-24 dengan puncak aktifitas matahari sekitar 2012-2014 dalam bentuk solar patrol.

Ada beberapa keberuntungan di balik data diatas:
  1. Flare muncul saat matahari masuk dalam range deteksi antena (beam).
  2. Kejadian muncul saat pengamat konsentrasi pada chart pengamatan.
  3. Kejadian muncul saat audio speaker sedang aktif..
  4. Kejadian muncul saat software audio sedang aktif merekam.
  5. Kejadian muncul beberapa saat dilakukan kalibrasi instrument.
Sebagai catatan, ini merupakan pengamatan dan kalibrasi pertama sejak Sound Card yang bertugas sebagai Analog-to-Digital Converter (ADC) diganti dengan yang baru karena rusak.

Hasil Dari X-Ray Satelit GOES

Minggu, 07 November 2010

Testing Interferometer

Testing 12 Jam pengamatan
Hari kemarin, 06 November 2010 merupakan hari dimana didapatkan first light Interferometer radio. Setelah bingung beberapa saat, akhirnya diputusin untuk testing interferometer aja langsung. Gak usah di attenuate dulu LO-nya, karena pada testing osc dan LO-Injection kemarin udah didapat keluaran audio yang sama dari dua receiver dan rasanya gak akan rusak jika langusng menginjeksi LO dari receiver 1 langsung ke mixer di receiver 2. Karena pada dasarnya LO dan Mixer di masing masing receiver juga langsung di injeksi begitu saja. Nanti kalau ada masalah baru dipikirkan lagi.

jam 23.15-04:56
Gambar diatas adalah hasil pengamatan selama 12 jam pengamatan. Sebenarnya maunya lebih karena waktu jam ke-12 kemarin itu jam 11 malam dan udah diniatin nginep. Tapi tiba-tiba sinyal malah drop dua-duanya dan hasil korelasi juga drop. Coba mencari penyebabnya sampai restart komputer segala, dan nyoba ganti input di microphon. Karena sinyal berubah drastis dan keburu panik duluan akhirnya milih di microphone. Karena di microphone sinyal kembali naik. Habis itu agak tenang sedikit dan ditinggal tidur. Pas bangun sekitar jam 3 pagi, coba dilihat malah gak karuan hasilnya (maksudnya tidak sesuai yang diharapkan). Sampai sekarang masih misteri...

Soundcard Oszilloscop
Pagi-pagi coba mengerjakan yang lain. teringat tentang Soundcard Oscilloscope yang dibicarakan di fringes akhirnya nyari-nyari yang gratisan dapet. Langsung dicoba buat lihat sinyal dari masing2 receiver didapat perbedaan phase 180 derajat. coba dilihat di pola x-y Lissajous memang terlihat perbedaan phase 180 derajat. Setelah dihitung berdasarkan persamaan kalibrasi, didapat bahwa diperlukan kabel adjusment 6,1XX m. Langusng teringat kabel feedline AJ-TB2 memiliki panjang segitu juga. artinya panjang kabel kurang setengah lambda. Pada awalnya mengira ini penyebab perbedaan Phase ini. Tapi setelah coba test tanpa antenna, sinyal masih tidak bergeming dengan pendiriannya berfase 180 derajat. Kecurigaan langsung mengarah ke receiver dan lebih tepatnya LO-Injection. Apa ini penyebabnya? misteri... Akan kucoba kau lain waktu. Tapi kau adalah perhatian pertamaku nanti.

Tadinya gak mau nginep, tapi setelah malem agak gerimis dan kabel udah terlanjur terpasang, males buat nggulung lagi ditambah baca notes FB seseorang sukarelawan Merapi dari link temen akhirnya diputusin nginep aja. Notesnya itu menceritakan kondisi yang memprihatinkan di pengungsian. Yang di pengungsian aja semangat walaupun dengan keterbatasan, disini yang lebih mendingan masak gak semangat.

Minggu,07 Nov 2010
Ruang Kontrol Teleskop Radio

Jumat, 05 November 2010

Test Oscilloscope dan LO Injection

Trio-Kenwood CS-1830
hari ini sesuai rencana dari kemarin yaitu coba lihat dan mencoba menyalakan oscilloscope yang mati suri di ruang instrument OB. Menurut Pak Asep, teknisi senior OB, katanya barang ini dulunya dipakai dalam kaitannya dengan fotometer. Tapi beliau sendiri belum pernah menggunakannya, hanya beberapa kali melihat osc ini ada di bamberg, kadang di GOTO, dan di tempat lain. Kalau dari data infentarisasi sih tertulis tahun 1981. wah, belum lahir saya...

harusnya sinyal kotak.
Oscilloscope ini ditemukan dalam keadaan tidak ada prob-nya, jadi untuk testing dan kalibrasi menggunakan kabel dan konektor bikin sendiri. setelah mencoba mengkalibrasi sesuai petunjuk, gambar yang ditampilkan tidak membentuk signal kotak. tapi seperti signal kotak yang bagian vertikalnya gak ada. Cuma garis-garis atas bawah atas bawah aja. selain itu sinyalnya juga nampak di batas bawah terus, nggak bisa digeser ke tengah layar.

mencoba putar-putar knop, pencet-pencet tombol, putar pencet putar pencet, tarik masukin sampe beberapa tengah jam kemudian akhirnya putus asa dan berhenti dulu dengan membiarkannya seperti itu...

foto saat testing receiver
Kerjaan akhirnya dilanjutin bikin dua kabel sama panjang yang akan dipake buat sambungan antena ke receiver 1 dan receiver 2. kabel ini akan dipake buat test reciver dan LO injection. Sumber sinyal berasal dari antena AJ-TB2 yang di split ke dua kabel ini dan masuk ke masing2 receiver. setelah antena terpasang, kabel LO-Injection juga terpasang, nyalakan dan coba di audio. Karna audio cuma satu set, terpaksa test audionya gantian. Dari test ini nampaknya audio yang dihasilkan sama. Tapi tunning yang berfungsi cuma tunning di receiver satu. Walaupun audio terpasang di receiver 2, tunning hanya bisa dilakukan dari receiver 1. ya bagus lah, lagian kalau masing2 bisa di tunning malah repot mensinkronkan frekuensinya.

Sebenarnya scope ini bakal dipake buat test V keluaran dari LO-out. tapi karna scopenya "ngadat" jadinya nekat nyambung LO-injection yang katanya harus di attenuate dulu. Hasil test LO-injection yang nggak di attenuate ini agak menggembirakan karena nampak sesuai yang diharapkan yaitu audio keluaran yang sama. Sehingga agak mengobati kekecewaan gara-gara scope "ngadat". Selanjutnya tinggal test pake scope. Tapi ntah pake scope siapa ntar ....

First Light AJ-TB1 feedline

screenshot first light dari AJ-TB1 feedline di Observatorium Bosscha.

Jumat, 24 September 2010

Prediksi Semburan Radio Jupiter, Okt 2010

Gambar diatas adalah salah satu contoh prediksi semburan radio tanggal 26 September 2010. Prediksi diatas merupakan hasil dari software Jupiter Pro dari Radio Sky Publishing.

Untuk melihat prediksi lebih lengkap untuk hari-hari berikutnya sampai akhir bulan Oktober 2010 bisa klik link ini

Jumat, 16 Juli 2010

Macam - macam interferensi JOVE

Berikut ini akan kita coba bahas satu per satu macam-macam sumber sinyal yang menginterferensi teleskop radio JOVE.
  1. Sumber alam
    Sumber alam yang sering menginterferensi dan terdeteksi adalah dari petir. Petir menghasilkan gelombang radio pada frekuensi dengan rentang yang lebar. "suara"petir ini bisa "terdengar" oleh teleskop radio JOVE dengan jarak yang lumayan jauh. Bahkan petir yang ada di Bandung terdeteksi dari teleskop radio JOVE yang ada di Lembang.
  2. Digital High-Frequency Interference
    Banyak lembaga baik pemerintah maupun swasta menggunakan HF untuk kokmunikasi. Sebagian diantaranya beroperasi di dekat frekuensi yang dicakup oleh JOVE, yaitu:
    • Radio Teletype
    • PACTOR
    • PACTOR No.2
    • Slow-Scan TV
    • HF Weather Fax
    • Ionosonde
    • Ionosonde 2
    • HF Radar
  3. Local Interference
    Peralatan - peralatan listrik dan mekanik disekitar receiver juga memberikan kontribusi interferensi yang lumayan sering terdeteksi.
  4. Radio Broadcast station
    Kalau yang ini jelas dari pemancar-pemancar radio pemerintah maupun swasta.
 reff:
http://radiojove.gsfc.nasa.gov/observing/rfi_samples.htm
http://www.daylongraphics.com/products/leveller/gallery/interference.jpg

Io Plasma Thorus

Io adalah satelit paling dekat dengan jupiter. banyak terjadi letusan vulkanik di Io. Letusan - letusan vulkanik ini menyemburkan sejumlah parikel ke luar angkasa, dan tersapu oleh medan magnet jupiter sekitar 1000 kg/detik. Material-material ini kemudian terionisasi oleh medan magnet jupiter (plasma) dan membentuk track seperti donat di sekitar orbit Io yang disebut Io Plasma Thorus.

Ketika Io bergerak mengelilingi Jupiter melewati plasma thorus ini, arus yang sangat terbesar terbentuk dan mengalir diantara mereka. Sekitar 2 Trilyun watt power terbentuk. Arus ini mengalir mengikuti garis-garis medan magnet ke permukaan jupiter dan menimbulkan cahaya di atmosfirnya. http://www.planetaryexploration.net/jupiter/io/io_plasma_torus.html

Selasa, 13 Juli 2010

Io Phase

Io Phase adalah posisi io relatif terhadap Jupiter dalam orbitnya mengelilingi Jupiter. Posisi 0 derajad adalah posisi ketika Io berada tepat di belakang Jupiter jika dilihat dari bumi. Io Phase naik ketika Io mengorbit Jupiter sampai nilai maksimum 180 derajat ketika Io berada di depan Jupiter. Io Phase terus naik sampai kembali ke posisi semula, di belakang Jupiter. Io bergerak mengilingi Jupiter dalam selang waktu 1,77 hari atau sekitar 43 jam.

Sabtu, 10 Juli 2010

Mempelajari Radio dari Jupiter dan Matahari

Kenapa kita mempelajari emisi radio dari Jupiter dan Matahari ?
Kita mempelajari emisi radio dari jupiter untuk mengetahui lebih baik tentang medan magnet dan lingkungan plasmanya (partikel bermuatan). Mempelajari planet lain juga memberikan pengetahuan lebih tentang planet kita sendiri, termasuk medan magnet dan emisi radio dari Jupiter. Bumi juga mengemisikan gelombang radio dengan proses yang identik, sehingga kita bisa lebih memahami proses ini dengan "mendengarkan" Jupiter baik dari landas bumi maupun luar angkasa.

Kita tidak hanya belajar tentang bagaimana gelombang radio terbentuk dan bagaimana dia menjalar, tetapi kita juga bisa memperlajari tentang interior Jupiter dan juga tentang satelit - satelit yang dimiliki Jupiter. Gelombang radio dihasilkan karena sebuah planet memiliki medan magnet. Medan magnet ini berasal dari interior planet yang sangat dalam, dan kekuatan medan magnet akan mempengaruhi tipe - tipe emisi radio yang diemisikan oleh sebuah planet. Hal ini juga bisa memberi tahu kita tentang bagaimana medan magnet terbentuk di dalam dan menjelaskan komposisi berbagai lapisan di dalam planet.

Satelit - satelit jupiter memiliki interaksi yang sangat kuat dengan medan magnet planet induknya, baik secara elektrik maupun magnetik. Satelit "Io" secara langsung mempengaruhi emisi radionya, sehingga kita juga bisa mempelajari lebih banyak tentang "Io" . Akhir - akhir ini juga ditemukan bahwa beberapa satelit - satelit besar yang lain juga mempengaruhi emisi radionya, sehingga kita juga bisa mempelajari lebih banyak tentang komposisi dan perilaku medan magnetiknya.



Sengan mempelajari emisi radio dari matahari, sama halnya dengan kita mempelajari medan magnetnya. Kita tidak bisa menghubungkan secara langsung dengan bumi, tapi dengan mempelajari matahari, kita dapat mengenal lebih baik bagaimana matahari bekerja dan begitu juga terhadap bintang - bintang lain. Mempelajari emisi radio dari matahari juga membantu para Ilmuan dalam mempelajari siklus 11 Tahun-nan matahari, karena beberapa emisi gelombang radio berubah terhadap perubahan siklus matahari.

Alasan  lain yang lebih krusial dari mempelajari emisi radio dari matahari adalah untuk mengerti lebih baik tentang bagaimana hubungan dan efek dari matahari terhadap bumi. Angin matahari dapat berpengaruh langsung terhadap bumi dengan mempengaruhi medan magnetik bumi serta lingkungan antariksanya. Angin matahari sebagai penyebab aurora  juga bisa berefek terhadap komunikasi, jaringan listrik, dan juga para astronot yang sedang di luar angkasa.


sumber: http://radiojove.gsfc.nasa.gov
  Kamis 22.37 WIB 08 Juli 2010
Belakang Masjid Al-Amanah

Kamis, 08 Juli 2010

Brainstorming Kolokium Bosscha

Hari senin tanggal 12 Juli yang akan datang adalah giliranku untuk jadi pembicara kolokium di Observatorium Bosscha. Setiap orang yang melakukan penelitian di Observatorium Bosscha selalu diminta untuk memberikan kolokium. Nah, untuk hari senin nanti, giliranku dan juga  tim riset Teleskop Radio dari Himastron. kami sama - sama meneliti pada ranah radio tetapi dengan fokus penelitian yang berbeda dan peralatan yang berbeda pula.

"Monitoring Aktifitas Matahari Menggunakan Teleskop Radio JOVE" seperti itulah kira-kira judul yang akan aku bawa. kenapa monitoring karena aktifitas selama ini lebih banyak monitoring serta testing peralatan tentunya. Sedangkan yang dimonitor adalah efek dari aktifitas medan magnetik matahari yaitu dengan mendeteksi emisi gelombang radio dari matahari tersebut. Frekuensi gelombang radio yang bisa dideteksi dengan JOVE adalah 20.1 MHz atau panjang gelombang ~ 14 meter dengan lebar pita (bandwidth) sekitar 0,1 MHz.

Teleskp Radio JOVE merupakan set peralatan Astronomi Radio yang tergolong baru di Observatorium Bosscha. Belum banyak  yang menggunakan peralatan ini selain Pembimbing saya Dr. Taufik Hidayat. Beliu sudah mencoba menggunakan peralatan ini kira - kira sejak setahun yang lalu. Aku sendiri sebenarnya sudah banyak tahu tentang alat ini dan berencana untuk membuat sendiri peralatan ini sejak tahun 2008 yang lalu, tetapi baru tahun 2010 ini mencoba mengoperasikan dan terlibat langsung.

Radio JOVE sendiri sebenarnya merupakan proyek edukasi dari NASA yang bisa digunakan para pelajar, guru, serta masyarakat umum untuk mempelajari astronomi radio dengan membangun teleskop radio sendiri dengan haarga yang terjangkau. Partisipan juga bisa ikut kolaborasi dengan berbagai pengamat dari seluruh dunia dengan sharing data pengamatan dan interaksi lewat jaringan internet. Proyek ini dimulai tahun 1998, dan sejak saat itu sudah ribuan tim dari pelajar dan beberapa masyarakat umum yang tertarik ikut membeli (non-profit) kit teleskop radio yang disediakan. (http://radiojove.gsfc.nasa.gov/about.htm)

Observatorium Bosscha sendiri sebenarnya sudah memiliki dua receiver JOVE hasil pengembangan sendiri bersama dengan Laboratorium Telekomunikasi dan Gelombang Mikro - STEI ITB dengan resource lokal  dan juga satu receiver yang original. Semuanya berada di ruang kontrol teleskop radio Observatorium Bosscha.

Site antena juga sudah dipersiapkan ada 5 tempat, dan yang sudah siap dipasangi antena ada tiga tempat. Sedangkan site yang sudah terpasang antena dan sudah di tes dengan receiver baru satu buah, yaitu yang berada di dekat ruang kontrol teleskop radio. Site antena ini memang sengaja dipersiapkan banyak karena rencananya semua peralatan ini akan dijadikan sebagai sarana belajar dan pengembangan Interferometer radio.

ok, segini dulu, kita teruskan nanti....:) 

Kamis 23.45 WIB 8 Juli 2010
Belakang Masjid Al-Amanah

Kamis, 01 Juli 2010

Terpaksa naik ke Bosscha

Hari ini tidak seharusnya aku naik ke Bosscha. Karena hari ini bukan jadwalku nerima kunjungan. Juga tidak ada rencana buat mantau matahari lagi. Buat si matahari rencanaku mau ku tengok besok saja. Tapi karena ada yang harus digantiin nerima kunjungannya, akhirnya aku naik juga.

Awalnya cuma berencana mau nerima kunjungan aja tapi kemudian muncul rencana - rencana yang lain. Biasa, kebiasaan buruk, awalnya males keluar kosan, tapi kalau udah keluar, dua tiga pulau terlampaui (halah).

-Rencana tambahan yang pertama adalah motret trail bintang dengan foreground kupel (kubah teropong besar zeiss). Lumayan buat diikutkan lomba fotografinya Himastron.
- Rencana tambahan yang kedua adalah menengok matahari, sudah hampir seminggu gak ditengok, gimana kabarnya ya... sekalian testing si JOVE lagi.

Hmm... apa lagi ya. Ok cukup itu saja. selanjutnya mempersiapkan persenjataan. Bawa kamera, tripod tidak usah, bawa radio buat dengerin matahari sama siaran lokal, dan tidak lupa laptop. Semua dimasukin tas, dan busyett...!! berat banget. Mau berangkat perasaan tidak enak. sepertinya ada yang ketinggalan. Biasanya kalau ada yang ketinggalan selalu ada yang mengganjal di hati. karena dicari gak ketemu juga akhirnya berangkat juga dengan hati mengganjal. Sampai di tengah jalan baru ingat kalau kabel konektor yang rencananya aku sambungin dari JOVE ke radio ketinggalan... Ah kan, ya sudahlah.

Sampai di Observatorium masih ada waktu buat ngobrol2 sama petugas sebelumnya. Biasa masalah pengunjung yang nyebelin, seperti tidak mematuhi peraturan, susah diatur, buang sampah sembarangan, karepe dewe, dll. Setelah itu ada yang bilang kalau tadi melihat sunspot. "Wah, yang bener..." mendengar kata sunspot aku langsung kegirangan nyari kunci Radio buat nengokin matahari pakei si JOVE. Setelah dinyalain ternyata grafiknya datar2 aja. harusnya ada fluktuasi kalau ada burst. Hmmm, mungkin belum terjadi burst. OK, ditinggal saja, siapa tahu nanti muncul burst.

Setelah selesai nerima kunjungan, aku balik lagi nengokin matahari, dan benar saja, ada fluktuasi yang signifikan, wuishh senengnya... sambil dengerin suara matahari (sepertinya) sambil direkam. Cuman, perekamnya ini sepertinya tidak bisa merekam dalam waktu yang lama. Tiap 1.22 menit selalu terputus sendiri. akhirnya nginstall software yang lain yaitu Cool Edit Pro V 2. Software ini sudah terbukti bisa ngrekam dalam waktu yang cukup lama. Setelah install software dan memastikan sudah bekerja dengan baik, semua dimatikan karena sudah tidak ada lagi fluktuasi alias sudah tenang kembali. Fluktuasi untuk hari ini kira - kira berlangsung selama kira2 1 jam. Mulai sekitar jam 2 sampai jam 3.

Kemudian langsung buru2 pulang, karena langit mendung dan udah mulai grimis. Jadi rencana tambahan yang pertama gagal karena langit tidak mendukung sepertinya.

Pas sampai di jalan besar, aku melihat orang2 dan kendaraan yang dari bawah pada basah semua.

"wah, jangan2 di bawah hujan deras nih..."
ragu2 mau lanjut ngga,
"Ok, Hajar terus..." lanjut gan.
setelah satu belokan
"kenapa orang2 pada berhenti di pinggir2 warung..?"
"jangan - jangan disini barusan hujan deras.."
sepertinya barusan hujan deras sodara - sodara.... busyet, cuma beda 1 belokan aja cuaca udah beda jauh.
yah, cuaca sekarang memang lagi gak jelas.

Pas sampei kosan, telinga agak berdengung, agak - agak tersumbat. Ibarat hidung lagi tersumbat, rasanya gak enak tentunya. Mungkin akibat beda tekanan antara di gunung dan di bawah. padahal udah berkali kali nelen ludah, sampe habis...hehe. "Ok lah, biarin aja, mudah2an bentar lagi plong.." . Ketika solat, pas sujud, telinga ini rasanya agak agak mau kebuka, karena bacaan udah habis, jadi harus bangkit lagi, dan telinga gak jadi kebuka. tadi solat ashar. Nah, pas sholat magrib, sama kayak tadi, agak - agak kebuka saat sujud. Akhirnya pas sujud kedua telinga ini kebuka..."Alhamdulillah..." plong. Jadinya sholat malah mikirin telinga, gak khusuk (kayak yang pernah khusuk aja...).

Intinya hari ini gak sia2 ke Observatorium, walaupun awalnya agak kepaksa.... dapet suspect burst.

Sabtu, 19 Juni 2010

Testing Dua Antena JOVE

Hari ini setelah selesai menerima kunjungan ke Observatorium Bosscha, saya tidak langsung turun (pulang). Saya berniat untuk meluangkan waktu sejenak menyelesaikan develop teleskop radio JOVE yang sempat terhenti kemarin karena hujan. Selain itu kalau turun sekarang, jalanan pasti macet karena malam minggu. Sepertinya besok juga akan macet. Jadi jadwal untuk hari minggu adalah istirahat di kosan.

Pekerjaan yang terselesaikan tadi adalah memasang konektor untuk kabel penghubung antara combiner dua antena dengan receiver. Setelah dipasang semuanya, langsung testing dengan laptop. Hasil yang didapat memang agak kurang meyakinkan. Grafik pada skypipe menunjukkan angka sekitar 17.8xx . Ketika antena disconnect, grafik malah naik, tetapi Hiss atau fluktuasi noise turun. Sedangkan ketika antena reconnect, hiss naik dan power turun. Kemudian saya pindah menggunakan PC yang biasa digunakan, tetapi hasilnya identik. Hal ini sangat membingungkan karena hasil yang diharapkan adalah yang sebaliknya. Jadi PR-ku sekarang adalah mencari kenapa ini bisa terjadi dan cek lagi apakah cabeling, antena, dan lainnya sudah sesuai dengan yang seharusnya.

Kondisi pengamatan juga tidak terlalu bagus karena langit mendung dan matahari sebagai sumber yang paling diharapkan diyakini sudah melewati beam. OK, karena belum solat ashar, pengamatan dihentikan dulu untuk dilanjutkan di lain waktu.